Bu Guru Ratih mampu jebol dinding Birokrasi

Assalaamu alaikum pengunjung guruKATRO,
Semoga kilas cerita dibawah ini bisa menjadi inspirasi bagi kita semua, terutama pada pengelola Dunia Pendidikan dan instansi yang terkait didalamnya.

Judul asli : Ibu Guru MI Ini Antarkan Siswanya Juara Badminton
Sumber : http://madrasah. kemenag.go.id/profil/sosok/503/ ibu-guru-mi-ini-antarkan-siswanya -juara-badminton.html

Guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) Thoriqotul Islamiyah Desa Luwang, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati ini tergolong pemberani. Ketika menurutnya terjadi ketidakadilan menimpa salah satu anak didiknya, ia tanpa ragu mendobrak birokrasi. Dengan percaya diri, guru muda ini menghadapi pejabat yang melakukan diskriminasi.

Siapa gerangan guru muda pemberani itu? Dialah Ratih Agnityas Wulandari, guru yang selama 12 tahun telah jatuh bangun dalam mendidik anak bangsa. Perempuan kelahiran Pati, 5 Agustus 1983 ini mengajar di MI tersebut sejak 2004 hingga kini. Bagaimana kisah ibu guru yang menginspirasi ini melawan tindak diskriminasi?

Ratih,



demikian sapaan akrabnya, memulai kisahnya melawan ketidakadilan sejak tahun 2013. Ketika itu, ia memiliki anak didik yang hobi berolahraga. Saking rajinnya berlatih, siswi ini sejak usia dini berprestasi di cabang bulutangkis tunggal putri. Beberapa kali ia menggondol piala juara pertama. Dialah, Faza Mantasya.

“Saat itu, siswi kami yang hobi main badminton ini ingin ikut serta di ajang POPDA dan O2SN. Lalu, saya cari tau untuk bisa daftar lomba tersebut. Ketika kami mau mendaftar, kami ditolak panitia,” ujar Ratih.

Alasannya, lanjut Ratih, siswa MI tidak bisa ikut lomba lantaran tidak tertera dalam petunjuk teknis (juknis) dari pemerintah, dalam hal ini Dinas Pemuda dan Olahraga. “Kami pun diam,” ujarnya pilu.

Setahun kemudian, tepatnya pada 2014, Ratih mendaftarkan kembali anak didiknya tersebut. Rupanya, aral masih saja melintangi langkahnya. Pegawai Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan (UPT Disdik) Kecamatan Tayu mengatakan, jika ingin ikut POPDA harus membayar iuran terlebih dahulu.

“Kami pun bayar kepada Ketua K3S Kecamatan Tayu sebesar 550.000 rupiah. Lagi-lagi kami kaget. Sebab, begitu sampai di ruang seleksi, kami tidak diperbolehkan ikut lomba. Mereka bilang, MI belum iuran. Lalu kami tunjukkan kuitansi. Mereka berkilah lagi, ini khusus SD katanya,” ungkap Ratih.

Ia bersama timnya pun pulang dengan tangan hampa. Tahun ketiga, tepatnya pada Mei 2015, Ratih kembali mendaftar pada seleksi O2SN. Meski ditolak panitia, tetapi Kepala UPT Disdik Kecamatan Tayu, Diyono, memberi kesempatan kepadanya untuk mendaftar.

Lalu, pada Oktober 2015, panitia POPDA Kecamatan Tayu mengadakan seleksi POPDA tingkat kecamatan. “Kami pun mendaftar kembali dengan membawa uang iuran. Tapi ditolak. Kali ini dengan alasan harus bayar 12.000 rupiah kali jumlah siswa kali seluruh MI se-kecamatan,” paparnya.

Jika MI-nya saja yang membayar, kata Ratih, maka tidak boleh. Harus sekecamatan. “Tentu, itu membebani kami dan sulit dipenuhi. Akhirnya gagal lagi. Tapi saya nggak putus asa. Saya lobby terus. Saya memohon kepada ketua panitia lomba, tapi saya tetap ditolak,” ujarnya tegar.

Curhat via Medsos

Ratih pun tak kehilangan akal. Setelah usaha kerasnya “membentur” dinding birokrasi, ia pun mencurahkannya ke media sosial yang dimilikinya. “Waktu saya berkeluh kesah di Facebook, beberapa hari kemudian saya diwawancarai wartawan. Akhirnya, termuat di media online dan cetak,” tutur Ratih.

Rupanya, kejutan demi kejutan dialami Ratih. Dengan sekejap, kehidupannya berubah. Ia di caci-maki oleh panitia POPDA dan teman-temannya. “Saya dianggap lancang dan kurang ajar karena berani mengungkap kasus ini,” kata alumnus PGMI IAIN Walisongo Semarang ini.

Lima hari setelah tayang di media cetak, banyak tamu yang berkunjung di madrasah untuk menemuinya. “Dari berbagai media cetak hingga Anggota Komisi D DPRD Kabupaten Pati,” ujar guru enerjik bernama lengkap Ratih Agnityas Wulandari ini.

Pasca-kunjungan anggota dewan, lanjut Ratih, dirinya dipanggil di kantor UPT Disdik Kecamatan tayu, tepatnya pada 12 Desember 2015. Meski perihal di suratnya tertulis membahas POPDA 2016, tetapi ia justru dimaki oleh ketua panitia Popda. “Puas. Sudah puas ya membuat begini,” ungkap Ratih menirukan mereka.

Ratih mengaku, dirinya bahkan ditunjuk-tunjuk oleh Ketua K3S. “Pokoknya saya diintimidasi. Tapi saya tersenyum aja, tidak membalas beliau-beliau yang lagi emosi,” tandas guru muda yang nekat ini.

Ditanya tentang siapa yang mendorong dan memotivasi dirinya berani mendobrak birokrasi untuk memperjuangkan anak didik, Ratih menjawab dirinya tidak tahan atas perlakuan diskriminatif bagi madrasah. “Saya modal nekat aja. Apapun rintangan yang menghadang,” tegasnya.

Setelah mereka puas bicara di forum tersebut, tibalah saatnya mereka membuat perhitungan. Ratih ditawari sebuah solusi. Yaitu, siswanya akan dijadikan wakil kecamatan melaju ke kabupaten tanpa seleksi. Dan permasalahan dianggap selesai.

Rupanya, Ratih tidak terpukau iming-iming tersebut. Ia keukeuh menolak solusi tersebut. “Bagiku belum selesai. Karena tujuan saya berjuang bukan untuk siswa saya saja. Tapi untuk anak-anak MI semua,” tegasnya.

Ratih hanya minta supaya tahun depan, MI diikutsertakan dengan syarat yang tidak memberatkan. Awalnya mereka tidak menyepakati permohonan Ratih. “Tapi ketika saya tetap nggak mau penawaran mereka, baru mereka berubah,” ujarnya bangga.

Akhirnya, perjuangan Ratih berbuah manis. Faza yang mendapat gelar Juara II “Sampang Cup” di Madura Oktober 2015 silam itu berhak melaju ke POPDA tingkat kabupaten pada Februari 2016. Anak kelas V MI ini juga memboyong piala Juara I “Bupati Cup” pada turnamen yang dihelat pada 28-30 Desember 2015 lalu. [Musthofa Asrori]

Cuplikan dari : http://sikarang-0.blogspot.co.id/2015/12/ratih-agnityas-bu-guru-kecil-yang.html
dengan judul : Ratih Agnityas Wulandari, Bu Guru Kecil Yang Pemberani

Assalamu'alaikum War Wab.



Selamat  berjumpa dengan saya, Sikarang Batukapur. 

Kali ini saya akan mengabarkan kepada anda tentang perjuangan seorang guru wanita yang sempat mengundang perhatian publik.

Si dia adalah bu guru yang cukup mengidola baik di kalangan teman sejawat maupun di kancah masyarakat. Memang, bu guru yang satu ini terkategori sebagai aktivis organisasi kaum wanita di antara kesibukannya mengabdikan diri di dunia pendidikan. Kecerdasan dan loyalitas sosial sudah semerbak sejak di SMA Negeri 1 Tayu. Kini bu guru yang Sarjana itu sedang teruji kompentensinya dengan bakat siswa didiknya yang terkendala.

Namanya Ratih Agnityas Wulandari. Berdomisili di Desa Tayuwetan, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati.

Bu Ratih, (demikian panggilan akrab dari anak-anak didiknya) adalah seorang guru di MI Thoriqotul Islamiyah Desa Luwang, Kecamatan Tayu.

Pada suatu sa'at (belum lama berselang), Srikandi tanpa tanda jasa ini sempat berbincang-bincang dengan saya (http://sikarang-0.blogspot.co.id/2015/12/ratih-agnityas-bu-guru-kecil-yang.html), tentang tantangan perjuangan yang dia hadapi. Tak lain adalah upaya menghantarkan siswa didiknya ke jenjang cita-cita yang terkendala oleh sebuah diskriminasi.

Inilah copy dialog dengannya pada saat itu :

Lagi sibuk berjuang pak

melawan diskriminasi

Ya, begitulah yg namanya jiwa pahlawan itu, Neng, tak lekang karna panas tak rapuh karna hujan. Siapa tahu minggu depan ada hujan buat Neng

iya pak.....mksh atas doanya

meskipun harus repot kmrn bolak balik pati dipanggil kemenag kabupaten

alhamdulilah kemenag pusat menangggapinya

Oke.... lanjut aja !

Sel 21:48

mlm....pak

mlm juga. Apa kabar ? Capek? Jenuh ? dll ? Atau msh sibuk ?

lumayan pak hehehe

Yah, mumpung msh muda, gunakan waktu untuk menebar kemanfaatan bagi sesama. .

besok saya di panggil ka upt

mengenai protes saya

bukan saya lancang melawannya

krn saya berjuang

dg apa yg saya anggap tdk adil


Berarti ada respon. Smoga saja keadilan dan kebenaran akan berpihak padamu. Dan siapapun yg tak faham apa yg kamu tanam saat ini segera mendapatkan hidayah dari Allah SWT.

bukan berarti aq melawan pak suhartotok

sy nggak menghormatinya

tp kita hrs meluruskan aturan dlm juknis..

besok akan saya hadapi..

Protes untuk memperoleh sebuah kebenaran adalah suatu hal yg wajar, dan memang perlu mendapatkan kejelasan dan keputusan yang bisa diterima oleh pihak-pihak terkait. mencari kesepakatan adalah hak yg hrs dihormati.

makasih pak

Demi kepentingan anak bangsa. Aku salut dengan apa yg neng lakukan. Smoga sukses.

kadang saya pingin nagis pak

betapa sulitnya memperoleh keadilan...2 thn

tp kadang mereka ngga mengerti apa yg kita rasakan

mereka ngga nggubris protes kita

ketika DPR,BUPATI,STAF MENTERI tau....baru ada respon

Aq mmg menulis surat resmi pak

di blog ku juga ada curahan2 hati ke galauan tentang perjuanganku

Knapa hrs nangis. Bukankah tangisan itu hanya untuk kompensasi penyesalan ketika berbuat salah/dosa. Sharusnya tetap tersenyum dan bersemangat, karena itu adalah energi yg memotori jiwa. Kalaupun apa yg tlh neng perbuat sekarang ini blm memperoleh hasil yg maksimal, tak apa. Bukankah lebih terhormat melakukan upaya dari pada tdk sama sekali. Konsisten dan tak jera dalam bertindak benar adalah kunci keberhasilan. Percayalah ada saatnya nanti Allah akan memberikan yg terbaik bagi umatnya. Bagimu, baginya, bagi mereka.........

ya...pak

aq mau nangis pak....cuma sulitnya jalan itu pak

Bersyukurlah, Neng diberi jalan yg sulit, berarti neng punya kelebihan yg tdk selayaknya cuma nggarap soal yg mudah.

tapi ketika dukungan dr pak rukman basori...staf mentri dr jakarta...membuat semangat lg...trs ketua DPRD...datang langsung ketemu saya di MI...Bilang salut atas keberaniannya...membuat saya semakin kuat pak....n bnyk yg mengungkapkan dukungannya...SEKDA Kabupaten pati....Koran harian pati....juga

Apa sy bilang.

saya malah nangis pak...nggak nyangka

Saya ucapkan terimakasih...dg tmn2 wartawan...dan staf2 kabupaten pati yg membantu saya.....

pak kanwil propinsi juga saya ucapkan terimakasih

Apapun bs saja terjadi. Tp harapan yg seolah-olah sulit untuk diraih, akan mendatangkan keharuan bercampur kebahagiaan. Yg ini kadang bisa menumpahkan air mata tanpa kita sadari. Akupun pernah seperti itu ketika anak-anaku meraih keberhasilan atas harapan-harapannya.

iyapak....aq nangis ketika disalami pejabat2

dan mereka mengucapkan...bu ratih..sikecil yg pemberani

Ya, smoga apa yg terjadi pada Neng hari kemarin, hari ini, dan hari esuk merupakan sebuah pelajaran berharga yg bisa memotivasi orang lain, terlebih anak-anak bangsa calon pemimpin masa depan.

amin....

semoga

Rupanya pembicaraan kita sdh cukup panjang, Neng. Jika tak keberatan, bagaimana jika dialog ini saya terbangkan di angkasa lewat sebuah blog ?

boleh...pak,,,,,,

Makasih


Harianpati.com  :
Menanggapi kasus dugaan diskriminasi yang terjadi kepada siswa yang sekolah di MI dalam seleksi Popda Kecamatan Tayu, Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Pati, Mussalam bereaksi keras atas kejadian tersebut. Pihaknya berencana mengundang seluruh instansi terkait untuk mengusut tuntas kasus tersebut.

“Kejadian ini tidak bisa dibiarkan, karena ini menyangkut hak anak bangsa. Apalagi dalam hal ini juga ada dugaan praktek pungli,” kata Mussalam Ketua Komisi D DPRD Pati, Selasa (1/12).
Aroma pungli yang diterapkan tim seleksi kepada sekolah yang akan mengikuti seleksi terlihat pada cara panitia Popda Kecamatan Tayu meminta MI untuk membayar iuran yang besar. Sehingga angka tersebut dinilai tak sewajarnya.

“Memang untuk apa dana 12 ribu rupiah kali jumlah siswa. Dan ini jumlah yang tidak sedikit. Apa memang tidak ada anggaran dari dinas untuk kegiatan seleksi tingkat kecamatan,” ujarnya.

"SENTILAN guruKATRO : misalnya bila 14 MI se Kecamatan Pati rata rata memiliki 100 peserta didik, berarti = 
Rp. 12.000,00 x 14 MI x 100 peserta didik = Rp. 16.800.000,00 (enam belas juta delapan ratus ribu rupiah), sebuah syarat yang sangat besar untuk biaya ikut seleksi lomba badminton satu siswa SD kelas V. Apabila di kecamatan Pati itu ada MI yang kayak di Kecamatan kami, yang jumlah siswanya rata-rata mencapai 3 kali lipat dari angka 100, dengan jumlah MI sebanyak 16, pasti akan ditemukan jumlah iuran yang SANGAT FANTASTIS"

Seperti diketahui, panitia seleksi Popda Kecamatan Tayu diduga melakukan diskriminasi kepada salah satu siswa MI Thoriqotul Islamiyah Desa Luwang, Faza Mantasya yang ingin mengikuti seleksi Popda cabang bulutangkis. Pihak panitia mensyaratkan kepada seluruh MI di Kecamatan Tayu untuk membayar Rp 12 ribu kali seluruh jumlah siswa jika siswa MI ingin mengikuti seleksi Popda.
Bahkan, pihaknya mensinyalir kejadian tersebut tidak hanya terjadi di Kecamatan Tayu saja. Dari informasi yang diterimanya, peristiwa tersebut juga terjadi di Kecamatan Cluwak.

“Kami akan segera memanggil pihak-pihak terkait untuk memutus praktek diskriminasi di dunia pendidikan Pati. Termasuk Disdik, Disbudparpora, serta Kemenag Kabupaten Pati serta tim seleksi Popda Kecamatan Tayu,” pungkasnya. (dy/ai/ws)

Ratih bukan hanya guru di MI, tapi beliau juga menjadi Guru Olah Raga di SD, SD Swasta. Yaitu di SDIPK HIDAYAH, Tayu Wetan, Pati. Sempat guruKATRO buka website sdipkhidayah.com, ada bu Guru ratih pada Struktur Organisasi.




Selamat BU.... Anda Benar benar Srikandi MI Khususnya, Madrasah Umumnya

Tidak ada komentar

Populer