TARI TARIAN DARI SULAWESI TENGAH

Assalaamu alaikum pengunjung guruKATRO,
Sulawesi Tengah adalah propinsi yang mempunyai ibu kota di Palu. Kota Palu sendiri letaknya berada di Teluk Palu, Kota Palu terbagi menjadi dua oleh Sungai Palu yang membujur dari Lembah Palu dan bermuara di laut. Masyarakat Propinsi Palu terdiri atas banyak sekali etnis dan suku bangsa, itulah menyebabkan Propinsi Palu kaya akan seni budaya,  berbagai macam Bahasa Daerah dan Adat Istiadat juga turut memperkaya khazanah kemajemukan  di Propinsi Palu.

Namun pada posting kali ini, shareSENBUD khusus akan mengangkat Seni Tari yang dimiliki Oleh Propinsi tersebut. Adapun seni Tari seni Tari yang dapat shareSENBUD peroleh Informasinya adalah sebagai berikut :


1.TARI  BALIORE

Tari Baliore adalah salah satu tari dari daerah Sulawesi Tengah. Tarian Baliore menggambarkan kelincahan gadis gadis Sulawesi Tengah yang bergembira saat pesta panen tiba. Mereka menari-nari dengan lincahnya. Hentakan ritmis tetabuhan, terutama gendang semakin menambah dinamisnya tarian ini. Tari ini merupakan tari kreasi yang diangkat dari Dingkula. Selain gerakannya, tarian ini mempunyai keunikan pada pakaian dan aksesorisnya.

Pakaian penari Baliore terdiri atas blus lengan pendek berwarna hijau modifikasi baju poko’ yang dihiasi dengan benang kuning. Pada bagian bawah menggunakan celana yang panjangnya 3/4 yang dalam bahasa Kaili disebut  Puruka  Pajana, berwarna hitam dihiasi benang emas. Sebagai pelapis pinggul digunakan rok pendek  yang dalam bahasa Kaili disebut  Ro’mbuku, warnanya merah dan kuning serta memakai ban pinggang yang dalam bahasa Kaili disebut Pende, berwarna hitam yang bersulamkan benang emas. Adapun aksesoris para penari  terdiri atas anting anting panjang yang dalam bahasa Kaili disebut   dali taroe tusuk konde yang dalam bahasa Kaili disebut   potosu unte, gelang yang dalam bahasa Kaili disebut    ponto, gelang kaki yang dalam bahasa Kaili disebut  vinti .

Gambar Tarian Baliore






2. TARI LUMENSE

Tari Lumense  adalah sebuah tarian yang berasal dari Tokotu’a. Lumense diartikan sebagai terbang tinggi. Tari Lumense berasal dari kecamatan kabaena. Pada dasarnya, Tari Lumense sudah ada pada jaman pra sejarah. Tetapi gerakan tari Lumense jaman sekarang, sudah tidak sama dengan Tari Lumense jaman sekarang, karena pada setiap era pasti ada semacam pengembangan.

Tari Lumense biasanya dilakukan dalam menyambut tamu pada pesta pesta rakyat dan dilakukan oleh penari perempuan yang berjumlah 12 orang, 6 orang berperan sebagai laki-laki dan 6 lainnya berperan sebagai perempuan, jadi walaupun semua penari adalah kaum hawa, namun Tari Lumense merupakan tarian yang melambangkan pasangan antara pria dan wanita. Para penari yang berperan sebagai perempuan memakai rok berwarna merah maron dengan atasan baju berwarna hitam, sedangkan penari yang berperan sebagai laki laki memakai taincombo yang dipadukan dengan selendang merah.

Gambar Tarian Lumense





3. TARI PEULE CINDE

Tari Peule Cinde memiliki beberapa sejarah yang ada pada masanya sendiri, Sebenarnya, Tari Peule Cinde sama dengan tarian yang lainnya, ada kemungkinan besar bila Tari Peule Cinde bisa berkembang di setiap era, karena penggunannya yang khusus untu penyambutan tamu (terutama tamu tamu yang dianggap agung). Puncak pementasan Tari Peule Cinde adalah dengan menaburkan bunga bunga kepada para tetamunya.

Gambar Tarian Peule Cinde






4. TARI BALIA

Tari Balia merupakan sejenis tarian yang berkaitan dengan kepercayaan animism, yaitu pemujaan terhadap benda keramat, khususnya yang berhubungan dengan pengobatan tradisional terhadap seseorang yang terkena pengaruh roh jahat. Pengertian Balia ialah tantang dia (Bali = tantang, ia = dia), yang artinya melawan setan yang telah membawa penyakit dalam tubuh manusia. Balia dipandang sebagai prajurit kesehatan yang mampu untuk memberantas atau menyembuhkan penyakit baik itu penyakit berat maupun ringan melalui upacara tertentu. Masuk atau tidaknya makhluk-makhluk tersebut ditentukan oleh irama pukulan gimba (gendang), lalove (seruling) yang mengiringi jalannya upacara ini. Karena itu, agar semua peserta balia bisa kesurupan maka irama gimba, lalove dan gong itu harus berubah-ubah dan bersemangat hingga nantinya peserta balia tersebut akan melakukan gerak-gerak tarian yang kasar, cepat dan tak beraturan dalam kondisi kesurupan. Pemimpin upacara ini ialah seorang dukun yang biasa disebut Tina Nu Balia yang berpakaian seragam terdiri atas buya (sarung), siga (destar) dan halili (baju dari kain kulit kayu), namun saat ini pemimpin upacara balia lebih sering menggunakan baju model kebaya.

Gambar Tari Balia









5. TARI DOPALAK

Dopalak. Dopalak ditarikan oleh 7 orang penari wanita, seorang diantaranya berperan sebagai palima yaitu kepala penari. Keenam penari lainnya disebut dayang-dayang. Tari Dopalak mengambarkan bagaiman ketujuh orang tersbut dating membawa dulang, setelah itu palima maju terlebih dahulu untuk menyelidiki tempat yang mengandung emas, kemudian diikuti oleh yang lain. Kemudian mereka semua mulai mengambil pasir yang bercampur emas, selanjutnya pekerjaan mendulang dimulai, menggunakan selendang sebagai penyaring, emas yang diperoleh dimasukkan ke dalam dulang selanjutnya mereka pulang. Iringan music tari Dopalak adalah seperangkat kakula, pertunjukkan ini dilakukan kurang lebih 7 menit.

Gambar Tarian Dopalak belum tersedia






6. TARI MORAEGO

Moraego adalah sejenis tarian untuk menyambut kepulangan para pahlawan dari medan perang dengan membawa kemenangan. Sebelum melakukan tarian ini ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh para penari diantaranya meminta restu kepada pemangku adat, setelah itu mencari wanita pasangan menari yang belum menikah.

Gambar Tarian Moraego belum tersedia






7. TARI PAJOGE

Pajoge. Pajoge merupakan tarian yang berasal dari lingkungan istana dan biasanya tari ini dipertunjukkan pada saat ada pesta pelantikan raja. Tarian ini merupakan hasil pengaruh unsur kesenian dari kebudayaan yang berkembang di Sulawesi Selatan. Para penarinya terdiri atas tujuh orang penari wanita dan penari pria. Pajoge berfungsi sebagai tarian hiburan, juga merupakan alat penghubung antara raja dan rakyat, untuk mendekatkan hubungan agar rakyat tetap cinta kepada rajanya dan sebaliknya.

Gambar Tarian Pajoge







8. TARI TOROMPIO

Torompio  berarti “angin berputar”. Gerakan tarian yang dinamis dengan gerakan berputar-putar bagaikan insan yang sedang dilanda cinta kasih, sehingga tarian ini disebut torompio. Pengertian gelora cinta kasih untuk semua kehidupan, seperti: cinta tanah air, cinta sesama umat, cinta kepada tamu-tamu (menghargai tamu-tamu) dan lain sebagainya. Namun, yang lebih menonjol ialah cinta kasih antarsesama remaja atau muda-mudi, sehingga tarian ini lebih dikenal sebagai tarian muda-mudi. Torompio dalam penampilannya sangat ditentukan oleh syair lagu pengiring yang dinyanyikan oleh penari dan pengiring tari.

Tarian ini dahulu ditarikan secara spontan oleh para remaja dengan jumlah yang tidak terbatas dan dipergelarkan di tempat terbuka, seperti halaman rumah atau tempat tertentu yang agak luas. Para penontonnya muda-mudi yang berdiri dan membentuk lingkaran, karena tari ini didominasi oleh komposisi lingkaran dan berbaris.

Gambar Tarian Torompio





9. TARI PONTANU

Tari Pontanu. Pontanu berarti menenun, tari Pontanu menggambarkan gadis-gadis Kaili yang sedang menenun kain sarung Donggala atau yang lebih dikenal dengan Buye Sabe. Seperti yang kita tahu sarung Donggala mempunyai motif warna yang indah diperkaya dengan sulaman benang emas membuat sarung Donggala dikenal dimana-mana sebagai tenunan khas Sulawesi Tengah, karena keindahannya pula hingga diabadikan dalam bentuk tarian Pontanu.

Gambar Tarian Pontanu




10. TARI PAMONTE

Pamonte artinya menuai padi, Tari Pamonte merupakan tari khas daerah Sulawesi Tengah yang menggambarkan kegiatan para petani pada saat musim panen tiba, mereka memetik dan menuai padi secara bergotong-royong. Pesta panen disebut dengan adat vunja yaitu tradisi masyarakat dalam mensyukuri keberhasilan panen. Dalam tarian ini terlihat jelas proses pengolahan padi menjadi beras. Mulai dari memetik, menumbuk, menapis. Gerak tari pamonte mengikuti syair lagu yang dinyanyikan. Layaknya seorang petani, mereka menggunakan topi caping dalam tarian. Pakaian Tari Pamonte biasanya terdiri dari kebaya berwarna Merah, dihiasi dengan benang emas, dan dilengkapi dengan kerudung warna merah.

Gambar Tarian Pamonte








11. TARI JEPENG

Tari Jepeng merupakan jenis tarian yang bernafaskan Islam. Pada mulanya tari Jepeng hanya ditarikan oleh kaum dewasa secara berpasangan, pada acara pesta perkawinan, khitanan, syukuran dan sebagainya, namun seiring perkembangan jaman, tari ini mulai dikreasikan, sehingga dapat dilakukan oleh kaum wanita dan pria secara berpasangan. Tarian ini diiringi kesenian marawasi, bersama-sama dengan alat kesenian lainnya seperti gambus, dan biola (viol)

Gambar Tari Jepeng belum tersedia





12. TARI PEPOINAYA

Tari Pepoinaya. Tari Pepoinaya merupakan tari pengucapan syukur atas segala berkah dan karunia yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa dalam kehidupan ini. Tari ini adalah pengembangan dari upacara adat Wurake dari Kabupaten Poso.Tari Pepoinaya menggunakan busana daerah Kecamatan Lore Selatan Kabupaten Poso yang disebut Baju Bada. Pakaian ini terdiri dari blus lengan pendek sebatas siku (bahasa Bada : Kaeva) berwama merah muda yang diaplikasi dengan pita warna-warni. Pada bagian bawah, menggunakan rok bersusun dua (bahasa Bada : Wini) berwarna biru, yang diaplikasi dengan Pita wama merah dan merah muda.

Gambar tarian Pepoinaya belum tersedia




13. TARI POSISANI

Tari Posisani. Posisani berarti perkenalan, tari ini merupakan tari pergaulan yang menggambarkan kegembiraan mda-mudi saat pesta. Mereka bergembira bersama sambil menari dan menyanyi. Para gadis menari dengan memainkan kerincing. Di saat inilah mereka berkenalan antara satu dengan yang lainnya, dan pada akhirnya mereka menemukan pasangan hidup. Pakaian Tari Posisani sama dengan pakaian yang digunakan pada Tari Jepeng, yaitu blus lengan panjang (bahasa Kaili : Baju Pasua) berwarna merah jambu. Pada pergelangan tangan blus ini, diaplikasi dengan kain warna biru yang bersulamkan benang emas sebagai pengganti gelang tangan. Pakaian Tari Posisani ini mengunakan selempang (bahasan Kaili : Nosampa) berwarna ungu dan putih yang dihiasi dengan picing/mote warna kuning, bermotifkan taiganja.

Pada bagian bawah, memakai celana panjang sebatas mata kaki (Puruka ndate) berwarna merah jambu. Pada pergelangan kaki celana ini diaplikasi dengan kain berwarna biru yang dihiasi dengan picing/mote warna kuning bermotifkan taiganja, sebagai pengganti gelang kaki. Selain celana panjang, juga memakai rok warna biru yang dihiasi picing/mote warna kuning bermotifkan taiganja dan benang emas. Rok ini dilengkapi dengan ban pinggang warna hitam, bersulamkan benang emas.

Gambar tarian Posisani





14. TARI ANITU

Anitu. Anitu berarti halus, tari ini dikenal di daerah Kulawi dan Palu Kabupaten Donggala. Tari Anitu ditarikan oleh 6 orang wanita. Formasi pokok dalam tarian tersebut adalah membentuk dua deretan ke belakang, yaitu tiga di kiri dan tiga di kanan serta membentuk satu dertan berjajar dngan setiap penari meletakkan tangan dibahu penari yang ada di sebelahnya. Gerak-gerak tangan yang digunakan adalah membuka dan menutup telapak tangan, gerak-gerak tangan seperti menumbuk, dan mengayunkan kedua tangan sambil memgang ujng selendang.

Gambar Tarian Anitu belum tersedia.


15. TARI DERO

Tari Dero, Dero atau Modero adalah tari persahabatan yang biasa dilakukan banyak orang dengan formasi melingkar. Tari Dero dikenal masyarakat Poso-Morowali, Sulawesi Tengah sebagai tarian perdamaian. Peserta tari tersebut saling berpegangan tangan yang menandakan rasa persatuan dan persahabatan, meskipun sebelumnya belum saling mengenal. Tarian ini biasanya diiringi organ tunggal dengan dua orang penyanyi.

Tari Dero menjadi sarana persahabatan sekaligus perdamaian, saat menari Dero setiap orang bebas masuk ke dalam lingkaran dan langsung menggandeng tangan orang disebelahnya, tidak ada yang pernah menolak penggandengan tangan itu karena Dero memang ajang untuk bergembira dan mencari sahabat tanpa peduli apa agamannya. Tarian Dero bukan tarian leluhur tetapi merupakan kebiasaan selama Pendudukan Jepang di Indonesia ketika Perang Dunia II. Saat ini tari dero telah dikembangkan dalam bentuk yang lebih popular bagi para pemuda sebagai sarana mencari pasangan di suatu keramaian.

Gambar Tarian Dero






pembaca perlu REFERENSI
penulis perlu NUTRISI
kerja sama yang baik adalah dengan meNONAKTIFKAN AdBlock
BIARKAN IKLAN TETAP TAMPIL PADA HALAMAN INI
Ockey !!!



Demikian tentang TARI TARIAN DARI SULAWESI TENGAH yang dapat guruKATRO sajikan, bila ada tanggapan/kritik/saran/pertanyaan, silakan disampaikan pada kolom komentar yang tersedia

terima kasih.


Wassalaamu alaikum

3 komentar

  1. kenapa tidak ada tari tunggalnya berikan alasan

    BalasHapus
    Balasan
    1. mohon maaf, sementara hanya seperti itu yang bisa disajikan, sebab untuk materi ber kategori sosbud, disini hanya merupakan hasil share dari portal pemerintah daerah dan departemen pariwisata setempat. guruKATRO hanya berusaha mengumpulkan data dengan tujuan agar lebih mudah dicari saja. Bila masih banyak kekurangannya hanya bisa mohon maaf......

      Hapus
  2. pos pos nya sangat menarik
    banyak info info baru yang di share
    terimakasih gan

    BalasHapus

Arsip

Google+

copyright©2017 guruKATRO
original template "simple" Powered by Blogger
reDesigned by ediTEMP