PROSES PEMBELAJARAN TEMATIK TERPADU DENGAN PENDEKATAN SCIENTIFIC

Pembelajaran yang diciptakan baik di kelas maupun di luar kelas diharapkan dapat dikondisikan dalam suasana hubungan peserta didik dan guru yang saling menerima dan menghargai, akrab, terbuka, dan hangat. Hal ini diterapkan dengan prinsip tut wuri handayani, ing madia mangun karsa, ing ngarsa sung tulada (di belakang memberikan daya dan kekuatan, di tengah membangun semangat dan prakarsa, di depan memberikan contoh dan teladan).

Terlebih bagi peserta didik sekolah dasar yang masih berada di Kelas 1, 2 dan 3, yang masih memerlukan bimbingan, dan perhatian, sebagaimana pelayanan para orang tua yang dengan kasih sayang membimbing mereka.

Sedangkan di Kelas 4, 5, dan 6 mulai ditingkatkan pemahaman peserta didik untuk lebih memahami hidup dan kehidupan di lingkungan sekitar dengan menciptakan pola berpikir rasional. Mencari jawaban mengapa harus belajar membaca dan menulis? Mengapa harus belajar matematika, mengapa harus berinterakti dan saling berkomunikasi dengan teman dan sebagainya. Dengan pembelajaran tematik Terpadu diharapkan dapat menjawab ke semuanya itu dengan catatan guru dan peserta didik memiliki komitmen dan selalu berpikir positif bahwa pola pembelajaran yang dilakukan adalah menuju ketercapaian kompetensi sebagaimana yang dituangkan di dalam standar kelulusan.

Pelaksanaan pembelajaran seyogyanya dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai, dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar, dengan prinsip alam takambang. Jadi guru (semua yang terjadi, tergelar dan berkembang di masyarakat dan lingkungan sekitar serta lingkungan alam semesta dijadikan sumber belajar, contoh dan teladan). Sebuah model pembelajaran diharapkan dapat dipergunakan sebagai wawasan untuk disesuaikan dengan kondisi peserta didik di masing-masing sekolah.

Peserta didik perlu dipersiapkan baik secara internal maupun eksternal, baik ketika di dalam kelas maupun di luar kelas. Terlebih bagi peserta didik yang masih berada di sekolah dasar tentu saja tidak dapat disamakan pelayannya dengan peserta didik yang ada di kelas menengah. Namun demikian baik peserta didik di kelas 1 sampai dengan kelas 6 dikondisikan menggunakan pendekatan tematik terpadu dengan tema sebagai pemersatunya.

Tema berperan sebagai pemersatu kegiatan pembelajaran, dengan memadukan beberapa mata pelajaran sekaligus. Adapun mata pelajaran yang dipadukan adalah mata pelajaran Agama (Akhlak Mulia/Budi Pekerti/ tata krama), PPKn dan Kepribadian, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (terdiri atas: Bahasa Indonesia, IPS, IPA, Matematika,), Estetika (Seni Budaya-Keterampilan) dan Pendidikan Jasmani, Olah Raga dan Kesehatan.

Pembuatan tema diharapkan memperhatikan kondisi peserta didik, lingkungan sekitar dan kompetensi guru dengan prosentase penyajian disesuaikan dengan aloasi waktu yang tersedia. Guru dalam penyajian diharapkan tidak terkonsentrasi pada salah satu mata pelajaran, melainkan harus tetap memperhatikan prosentase penyajianya. Namun demikian penjadwalan dalam hal ini tidak terbagi secara kaku melainkan diatur secara luwes.

Mata Pelajaran Agama yang disajikan secara terpadu adalah yang sifatnya budi pekerti luhur, akhlak mulia dan tata krama serta bagaimana bersopan santun dalam pergaulan di dalam keluarga dan masyarakat, keterkaitan dengan pendidikan karakter bangsa. Sedangkan untuk materi-materi yang sifatnya aqidah dan khusus keagamaannya sisajikan oleh guru agama sendiri.

Demikian juga untuk Pendidikan Jasmani dan kesehatan, yang sifatnya gerakan ringan dan kesehatan yang dapat disajikan di dalam kelas, bisa dilakukan oleh guru kelas. Sedangkan yang sifatnya gerakan olah raga yang memerlukan fisik, gerakan bebas, tetap dilakukan oleh guru olah raga dan dilaksanakan di luar kelas/ lapangan olah raga.

Pembelajaran tematik diawali dengan pembuatan tema selama satu tahun, kemudian dengan tema-tema yang telah dibuat tersebut, guru menganalisis semua standar kompetensi lulusan yang diturunkan ke dalam kompetensi inti dan selanjutnya mengalir ke kompetensi dasar dan membuat indikator dari masing-masing mata pelajaran yang ada di setiap kelas. Setelah itu dibuat hubungan antara KD dan indikator dengan tema yang telah disiapkan selama satu tahun. Berikutnya dari pemetaan hubungan tersebut dilanjutkan dengan membuat jaringan KD & indikator dari setiap tema yang telah dibuat. Setelah jadi semua jaringan selama satu tahun dilanjutkan dengan menyusun silabus tematik dan yang terakhir menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Tematik.

Pembelajaran tematik terpadu melalui beberapa tahapan yaitu :

  1. Guru harus mengacu pada tema sebagai pemersatu berbagai mata pelajaran untuk satu tahun.
  2. Guru melakukan analisis standar kompetensi lulusan, kompetensi inti, kompetensi dasar dan membuat indikator dengan tetap memperhatikan muatan materi dari Standar Isi.
  3. Membuat hubungan antara kompetensi dasar, indikator, dengan tema
  4. Membuat jaringan KD dan indikator
  5. Menyusun silabus tematik
  6. Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran tematik dengan mengondisikan pembelajaran yang menggunakan pendekatan scientific. Untuk lebih jelasnya akan dibahas di bawah ini.

A. Pendekatan Pembelajaran Tematik Terpadu

Kurikulum 2013 menekankan penerapan pendekatan scientific (meliputi: mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta untuk semua mata pelajaran) (Sudarwan, 2013).

Komponen-komponen penting dalam mengajar menggunakan pendekatan scientific (McCollum : 2009)

  • Menyajikan pembelajaran yang dapat meningkatkan rasa keingintahuan (Fostera sense of wonder),
  • Meningkatkan keterampilan mengamati (Encourage observation),
  • Melakukan analisis ( Push for analysis) dan
  • Berkomunikasi (Require communication)
Aspek-aspek pada pendekatan scientific terintegrasi pada pendekatan keterampilan proses dan metode ilmiah.

Keterampilan proses sains merupakan seperangkat keterampilan yang digunakan para ilmuwan dalam melakukan penyelidikan ilmiah.

Keterampilan proses perlu dikembangkan melalui pengalaman-pengalaman langsung sebagai pengalaman pembelajaran (Rustaman :2005).

Langkah-langkah metode ilmiah (Helmenstine, 2013)

  • melakukan pengamatan,
  • menentukan hipotesis,
  • merancang eksperimen untuk menguji hipotesis,
  • menguji hipotesis,
  • menerima atau menolak hipotesis dan merevisi hipotesis atau
  • membuat kesimpulan
Dari beberapa pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa pendekatan Saintifik adalah pembelajaran yang mendorong anak untuk melakukan keterampilanketerampilan ilmiah sesuai permendiknud 81 A tahun 2013 sebagai berikut :

1. Mengamati
Dalam kegiatan mengamati, guru membuka secara luas dan bervariasi kesempatan peserta didik untuk melakukan pengamatan melalui kegiatan: melihat, menyimak, mendengar, dan membaca. Guru memfasilitasi peserta didik untuk melakukan pengamatan, melatih mereka untuk memperhatikan (melihat, membaca, mendengar, meraba, merasakan, mencium aroma) hal yang penting dari suatu benda atau objek.

2. Menanya
Dalam kegiatan mengamati, guru membuka kesempatan secara luas kepada peserta didik untuk bertanya mengenai apa yang sudah dilihat, disimak, dibaca atau dilihat. Guru perlu membimbing peserta didik untuk dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang yang hasil pengamatan objek yang konkrit sampai kepada yang abstrak berkenaan dengan fakta, konsep, prosedur, ataupun hal lain yang lebih abstrak. Pertanyaan yang bersifat faktual sampai kepada pertanyaan yang bersifat hipotetik.
Dari kegiatan kedua dihasilkan sejumlah pertanyaan. Melalui kegiatan bertanya dikembangkan rasa ingin tahu peserta didik. Semakin terlatih dalam bertanya maka rasa ingin tahu semakin dapat dikembangkan. Pertanyaan tersebut menjadi dasar untuk mencari informasi yang lebih lanjut dan beragam dari sumber yang ditentukan guru sampai yang ditentukan peserta didik, dari sumber yang tunggal sampai sumber yang beragam.

3. Mengumpulkan informasi/eksperimen
Tindak lanjut dari bertanya adalah menggali dan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber melalui berbagai cara. Untuk itu peserta didik dapat membaca buku yang lebih banyak, memperhatikan fenomena atau objek yang lebih teliti, atau bahkan melakukan eksperimen. Dari kegiatan tersebut terkumpul sejumlah informasi. Anak perlu dibiasakan untuk menghubung-hubungkan antara informasi satu dengan yang lain, untuk mengambil kesimpulan. Anak perlu dihadapkan dengan sekumpulan fakta yang memiliki unsur kesamaan agar ditemukan polanya.

4. Mengasosiasikan/mengolah informasi /menalar
Informasi tersebut menjadi dasar bagi kegiatan berikutnya yaitu memroses informasi untuk menemukan keterkaitan satu informasi dengan informasi lainnya, menemukan pola dari keterkaitan informasi dan bahkan mengambil berbagai kesimpulan dari pola yang ditemukan.
Kegiatan mengolah informasi yang sudah dikumpulkan baik terbatas dari hasil kegiatan mengumpulkan/eksperimen maupun hasil dari kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi.
Pengolahan informasi yang dikumpulkan dari yang bersifat menambah keluasan dan kedalaman sampai kepada pengolahan informasi yang bersifat mencari solusi dari berbagai sumber yang memiliki pendapat yang berbeda sampai kepada yang bertentangan.

5. Mengomunikasikan
Kegiatan berikutnya adalah menuliskan atau menceritakan apa yang ditemukan dalam kegiatan mencari informasi, mengasosiasikan, dan menemukan pola. Hasil tersebut disampaikan di kelas dan dinilai oleh guru sebagai hasil belajar peserta didik atau kelompok peserta didik tersebut. Peserta didik perlu dibiasakan untuk mengemukakan dan mengomunikasikan ide, pengalaman, dan hasil belajarnya kepada orang lain ( teman atau guru bahkan orang luar ).
Pendekatan saintifik ini biasanya tampak jelas ketika siswa terlibat dalam model pembelajaran tertentu, yaitu :
(1) Project Based Learning,
(2) Problem Based Learning, dan
(3) Discovery Learning.

a. Project Based Learning
Project Based Learning dalam bahasa Indonesia disebut Pembelajaran Berbasis Proyek (PBP). Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning) adalah suatu model pembelajaran yang melibatkan suatu proyek dalam proses pembelajaran. Proyek yang dikerjakan oleh peserta dan dapat berupa perseorangan atau kelompok dan dilaksanakan peserta didik dalam waktu tertentu secara berkolaboratif menghasilkan sebuah produk yang hasilnya kemudian akan ditampilkan atau dipresentasikan.

Pelaksanaan proyek dilaksanakan secara kolaboratif dan inovatif, unik yang berfokus pada pemecahan masalah yang berhubungan dengan kehidupan peserta didik. Pembelajaran berbasis proyek merupakan bagian dari metoda instruksional yang berpusat pada pembelajaran. Dalam pelaksanaan pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning), guru hanya mengamati, memantau kegiatan belajar mengajar baik di dalam kelas maupun di luar kelas.

1) Tujuan Pembelajaran
Tujuan Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning) yaitu:

  • Mengaktifkan peserta didik didik dalam kegiatan belajar mengajar
  • Membiasakan peserta didik berinteraksi pada lingkungan.
  • Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mau bekerja secara produktif menemukan berbagai pengetahuan.
  • Membiasakan peserta didik berpikir kritis dan analistis
  • Mencari dan memanfaatkan sumber belajar yang berasal dari lingkungan sekitar.
  • Menggunakan pengetahuan secara efektif
  • Mengembangkan pengetahuan dan strategi untuk memecahkan permasalahan.

2) Manfaat Pembelajaran
Pembelajaran Berbasis Proyek (PBP) merupakan strategi pembelajaran yang berfokus pada peserta didik dalam kegiatan pemecahan masalah dan tugas-tugas bermakna lainnya. Pelaksanaan PBP dapat memberi peluang pada peserta didik untuk bekerja mengonstruk tugas yang diberikan guru yang puncaknya dapat menghasilkan produk karya peserta didik. Manfaat Pembelajaran berbasis proyek (PBP) diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru dalam pembelajaran.
  • Meningkatkan kemampuan peserta didik dalam pemecahan masalah.
  • Membuat peserta didik lebih aktif dalam memecahkan masalah yang kompleks dengan hasil produk nyata berupa barang atau jasa.
  • Mengembangkan dan meningkatkan keterampilan peserta didik dalam mengelola sumber/bahan/alat untuk menyelesaikan tugas.
  • Meningkatkan kolaborasi peserta didik khususnya pada PBP yang bersifat kelompok.

3) Prinisp-prinsip pembelajaran berbasis proyek (PBP)
Sebagaimana telah diuraikan di atas bahwa sarana pembelajaran untuk mencapai kompetensi dalam PBP menggunakan tugas proyek sebagai strategi pembelajaran. Para peserta didik bekerja secara nyata, memecahkan persoalan di dunia nyata yang dapat menghasilkan solusi berupa produk atau hasil karya secara nyata atau realistis. Prinsip yang mendasari pembelajaran berbasis proyek adalah:

  • Pembelajaran berpusat pada peserta didik yang melibatkan tugas-tugas pada kehidupan nyata untuk memperkaya pembelajaran.
  • Tugas proyek menekankan pada kegiatan penelitian berdasarkan suatu tema atau topik yang telah ditentukan dalam pembelajaran.
  • Penyelidikan atau eksperimen dilakukan secara otentik dan menghasilkan produk nyata yang telah dianalisis dan dikembangkan berdasarkan tema/topik yang disusun dalam bentuk produk (laporan atau hasil karya). Produk, laporan, atau hasil karya tersebut selanjutnya dikomunikasikan untuk mendapat tanggapan dan umpan balik untuk perbaikan proyek berikutnya.

4) Langkah-langkah Pembelajaran
Dalam PBP, peserta didik diberikan tugas dengan mengembangkan tema/topik dalam pembelajaran dengan melakukan kegiatan proyek yang realistik. Di samping itu, penerapan pembelajaran berbasis proyek ini mendorong tumbuhnya kreativitas, kemandirian, tanggung jawab, kepercayaan diri, serta berpikir kritis dan analitis pada peserta didik. Secara umum, langkah-langkah Pembelajaran berbasis proyek (PBP) dapat dijelaskan sebagai berikut.





Tabel 1: Sintaksis Pembelajaran Berbasis Proyek

Tahap
Kegiatan Guru dan Peserta Didik
Tahap 1 :
Penentuan Proyek (Menyampaikan proyek yang akan dikerjakan)
Guru memberitahukan kepada peserta didik tentang proyek yang akan dikerjakan dan menyepakati kontak belajar

Tahap 2 :
Perancangan langkahlangkah Proyek (Mengorganisasi peserta
didik untuk belajar)
Guru membentuk kelompok-kelompok kecil yang nantinya akan bekerja sama untuk menggali informasi yang diperlukan untuk menjalankan proyek.
Tahap 3 :
Membantu peserta didik melakukan penggalian informasi yang diperlukan.
Guru mendorong peserta didik melakukan penggalian informasi yang diperlukan . Kalau perlu, guru memfasilitasi dengan menyediakan buku, bahkan bacaan, video,atau bahkan mendampingi peserta didik mencari informasi di internet.
Tahap 4 :
Merumuskan hasil pengerjaan proyek
Guru mendorong peserta didik untuk menyajikan informasi yang diperoleh ke dalam satu bentuk yang paling mereka sukai.
Tahap 5 :
Menyajikan hasil pengerjaan proyek
Guru mendorong peserta didik untuk menyajikan hasil karya mereka kepada seluruh siswa yang lain


Sesuai dengan namanya . Project Based Learning, maka peserta didik belajar dari melakukan proyek. Karena itu, kalau ingin menyelenggarakan Project Based Learning, harus ada proyek dulu yang ingin dikerjakan. Misalnya ada proyek penghijauan atau pembuatan kebun tanaman Obat Keluarga, atau penataan Ruang Kelas, dll.

Ketika melakukan proyek penghijauan, misalnya peserta didik belajar tentang IPA, Matematika, Bahasa Indonesia, IPS dan mata pelajaran lain . Dengan mencatat perkembangan tumbuhan yang ditanam dalam proyek penghijauan tersebut, anak belajar matematika. Dengan mencatat ukuran bentuk dari daun dan aspek lain dari tanaman yang ditanam , peserta didik belajar IPA dan sekaligus matematika. Dengan menganalisis pertumbuhan serta mencatat dan melaporkan hasilnya kepada teman, guru atau pihak lain, anak belajar bahasa Indonesia. Demikianlah seterusnya.

Catatan :
Pembelajaran berbasis proyek biasanya dilaksanakan dalam periode waktu yang lama. Minimal satu minggu penuh, bahkan bisa satu bulan, atau satu semester. Karena itu pembelajaran berbasis proyek tidak dimaksudkan untuk menggantikan kegiatan pembelajaran yang sudah ada di dalam Buku Siswa dan Buku Pedoman Guru. Pembelajaran Berbasis Proyek tersebut disarankan untuk diterapkan sebaiknya kelas tinggi pada setiap minggu keempat dari satu tema.



b. Problem Based Learning

1) Pengertian Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM)
Pembelajaran berbasis masalah (PBM) adalah pendekatan pembelajaran yang dilakukan untuk memecahkan permasalahan yang diangkat oleh guru dan peserta didik. Pembelajaran model ini membahas dan memecahkan masalah autentik. Dengan Pembelajaran berbasis masalah Peserta didik didorong untuk dapat menyusun pengetahuan sendiri, menumbuhkan keterampilan yang lebih tinggi, melatih kemandirian peserta didik, dan dapat meningkatkan kepercayaan diri peserta didik . Masalah autentik diartikan sebagai masalah kehidupan nyata yang ditemukan peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran berbasis masalah proses (Problem Based Learning) merupakan model pembelajaran yang digunakan untuk mendapatkan suatu penyelesaian tugas atau situasi yang benar - benar sebagai masalah dengan menggunakan aturan-aturan yang sudah diketahui. Dengan demikian pembelajaran berdasarkan masalah (Problem Based Learning) lebih memfokuskan pada masalah kehidupan nyata yang bermakna b Dalam model Pembelajaran Berdasarkan Masalah (Problem Based Learning) ini, guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator, pembimbing dan motivator. Guru mengajukan masalah otentik/mengorientasikan peserta didik kepada permasalahan nyata (real world), memfasilitasi/membimbing (scaffolding) dalam proses penyelidikan, memfasilitasi dialog antara siswa, menyediakan bahan ajar peserta didik serta memberikan dukungan dalam upaya meningkatkan temuan dan perkembangan intektual peserta didik.

2) Tujuan
Tujuan utama PBM bukanlah penyampaian sejumlah besar pengetahuan kepada peserta didik, melainkan pada pengembangan kemampuan berpikir kritis dan kemampuan pemecahan masalah dan sekaligus mengembangkan kemampuan peserta didik untuk secara aktif membangun pengetahuan sendiri. PBM juga dimaksudkan untuk mengembangkan kemandirian belajar dan keterampilan sosial peserta didik. Kemandirian belajar dan keterampilan sosial itu dapat terbentuk ketika peserta didik berkolaborasi untuk mengidentifikasi informasi, strategi, dan sumber belajar yang relevan untuk menyelesaikan masalah.

3) Prinsip-prinsip PBM
Prinsip utama PBM adalah penggunaan masalah nyata sebagai sarana bagi peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan dan sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kemampuan pemecahan masalah. Masalah nyata adalah masalah yang terdapat dalam kehidupan seharihari dan bermanfaat langsung apabila diselesaikan.
Pemilihan atau penentuan masalah nyata ini dapat dilakukan oleh guru maupun peserta didik yang disesuaikan kompetensi dasar tertentu. Masalah itu bersifat terbuka (open-ended problem), yaitu masalah yang memiliki banyak jawaban atau strategi penyelesaian yang mendorong keingintahuan peserta didik untuk mengidentifikasi strategi-strategi dan solusi-solusi tersebut. Masalah itu juga bersifat tidak terstruktur dengan baik (ill-structured) yang tidak dapat diselesaikan secara langsung dengan cara menerapkan formula atau strategi tertentu, melainkan perlu informasi lebih lanjut untuk memahami serta perlu mengkombinasikan beberapa strategi atau bahkan mengkreasi strategi sendiri untuk menyelesaikannya.

4) Manfaat
  • Peserta didik lebih memahami konsep yang diajarkan sebab mereka sendiri yang menemukan konsep tersebut;
  • Melibatkan secara aktif memecahkan masalah dan menuntut keterampilan berpikir peserta didik yang lebih tinggi;
  • Pengetahuan tertanam berdasarkan skemata yang dimiliki peserta didik sehingga pembelajaran lebih bermakna;
  • Peserta didik dapat merasakan manfaat pembelajaran secara langsung, sebab masalah-masalah yang diselesaikan langsung dikaitkan dengan kehidupan nyata, hal ini dapat meningkatkan motivasi dan ketertarikan peserta didik terhadap bahan yang dipelajari;
  • Menjadikan peserta didik lebih mandiri dan dewasa, mampu memberi aspirasi dan menerima pendapat orang lain, menanamkan sikap sosial yang positif diantara peserta didik dan Pengkondisian peserta didik dalam belajar kelompok yang saling berinteraksi terhadap pembelajar dan temannya sehingga pencapaian ketuntasan belajar peserta didikdapat diharapkan.


5) Langkah-langkah Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM)
Pada dasarnya, PBM diawali dengan aktivitas peserta didik untuk menyelesaikan masalah nyata yang ditentukan atau disepakati. Proses penyelesaian masalah tersebut berimplikasi pada terbentuknya keterampilan peserta didik dalam menyelesaikan masalah dan berpikir kritis serta sekaligus membentuk pengetahuan baru.
Secara umum, tahapan-tahapan atau sintaks PBM sebagai berikut.





Tabel 2. Sintaksis Pembelajaran Berbasis Masalah

Tahap
Kegiatan Guru dan Peserta Didik
Tahap 1 :
Mengorientasikan peserta didik terhadap masalah (Menyajikan masalah yang akan dipecahkan)
Guru menyajikan masalah yang harus dislesaikan atau dipecahkan oleh peserta didik
Tahap 2 :
mengorgaisasi pesertadidik untuk belajar(Merumuskan Masalah)
Guru bersama peserta didik mencobamemahami masalah, dan mengidentifikasilangkah-langkah yang perlu dilakukan untukmemecahkan masalah tersebut
Tahap 3 :
Membantu peserta didik memecahkan masalah
Guru menyediakan fasilitas untuk membantupeserta didik menjalankan rencana mereka memecahkan masalah.
Tahap 4 :
Merumuskan hasil pemecahan masalah
Guru mendorong peserta didik untukmerumuskan hasil pemecahan masalah dalambentuk yang paling menarik dan mereka sukai
Tahap 5 :
Menyajikan hasilpemecahan masalah
Guru mendorong peserta didik untuk saling berbagi hasil pemecahannya dan mengkonfirmasi kebenarannya


Sesuai dengan namanya, Problem Based Learning adalah pembelajaran yang diperoleh dari usaha untuk pemecahan masalah. Karena itu, kalau ingin menggunakan Problem Based Learning maka pertama kali yang harus ada adalah masalah.

Masalah adalah sesuatu yang ingin kita selesaikan tetapi tidak ada rumus atau cara yang serta merta dapat digunakan untuk menyelesaikannya. Masalah misalnya adalah "Cat apa yang harus kita gunakan agar ruang yang kita rehab ini tampak kelihatan bagus, awet, tetapi harganya harus semurah mungkin?"

Dengan menyelidiki harga cat yang tersedia di lapangan, daya tahan dan kekuatannya, komposisi bahan cat, kesesuaian dengan kondidsi geografis ruangan yang akan dicat, dan lain-lain, anak-anak belajar Matematika. IPA, IPS, Bahasa Indonesia dan lain-lain.

Catatan :
Sebagaimana Pembelajaran Berbasis Proyek, maka Pembelajaran Berbasis
Masalah biasanya juga dilaksanakan dalam periode waktu yang lama. Minimal
satu minggu penuh, bahkan bisa satu bulan, atau satu semester.

lanjutannya SILAKAN BUKA DARI SINI

Tidak ada komentar:

Arsip

Google+